Kalau kita mendengar kata
jangkrik, ingatan kita adalah untuk pakan burung piaraan, untuk pakan ikan
Arwana, ikan Oscar dan untuk
mincing. Di Indonesia ada lebih dari 100 jenis jangkrik diantaranya jangkrik kebun, jangkrik upo,
jangkrik jlitheng atau jrabang atau dikenal dengan nama jangkrik kalung atau
jangkrik aduan. Ada juga jangkrik kliring atau jangkrik bering. Kalau di Riau disebut jangkrik
alam Ada juga yang menamakan
cingkariak atau sijontu
Sejak krisis moneter tahun 1998, banyak orang mulai beternak
jangkrik. Pada umumnya ya dijual untuk pakan burung piaraan, untuk
pakan ikan arwana dan ikan Oscar dan untuk memancing
Jauh sebelum Indonesia
merdeka, sebagian penduduk umumnya
yang berdomisili didesa desa
sudah terbiasa mengkonsumsi jangkrik bakar yang rasanya gurih seperti
udang, bothok jangkrik, pepes jangkrik, rempeyek jangkrik dan masih banyak lagi olahan jangkrik lainnya. Namun saat masuk kezaman yang
serba instan seperti sekarang ini, produk olahan jangkrik tak
diingat lagi
Jangkrik kalung (grillus
testaceus) adalah hewan dari kelompok (family) serangga (insect) yang sudah
biasa dikonsumsi secara turun
temurun dan menurut agama Islam juga
tidak diharamkan.
JANGKRIK HALAL DIKONSUMSI
Berdasarkan Fatwa Majelis
Ulama Indonesia (MUI) no 139/MUI/IV/2000
dinyatakan bahwa Jangkrik adalah serangga
sejenis belalang yang tidak haram
dan membudidayakan jangkrik untuk diambil manfaatnya, untuk dimakan atau dijual,
untuk obat/kosmetik misalnya, hukumnya adalah mubah (boleh) sepanjang tidak menimbulkan bahaya (mudharat)
Sampai awal tahun 2000
jangkik kalung masih belum diperhitungkan sebagai alternative sumber gizi dan
senyawa essensia l yang sangat
dibutuhkan manusia padahal Nutrien dan
senyawa yang terkandung dalam jangkrik
kalung pada hakekatnya merupakan anugerah TUHAN YANG MAHA
KUASA dialam semesta
Setelah dipelajari dan
dikaji secara mendalam, ternyata
jangkrik berpotensi dimanfaatkan untuk pembuatan berbagai produk pangan, pangan fungsional,
food suplemen serta ramuan obat tradisional, yang sangat
bermanfaat untuk kesehatan, kebugaran, stamina serta fitalitas pria dan
wanita
Pada era tahun 2000-an,
penelitian yang dilakukan oleh Ir Prayitno MSc (Dosen dan peneliti dari
Universitas Jendral Sudirman Purwokerto), ditemukan bahwa dalam tubuh jangkrik kalung
terkandung berbagai senyawa essensial
seperti asam amino. asam lemak tak jenuh rantai panjng (OMEGA 3 dan
OMEGA 6) serta hormone testosteron pada
jangkrik jantan dan betina
mengandung estrogen
Senyawa yang terkandung
dalam jangkrik kalung ditinjau secara ilmu nutrisi, biokimia, dan fisiologi, ternyata
berpotensi dimanfaatkan untuk menjaga, memperbaiki mempertahankan kesehatan, stamina,
kebugaran tubuh serta vitalitas pria dan
wanita diatas 40 tahun
